Posterous theme by Cory Watilo

Erata

Sekarang sudah tanggal 30 Januari, sementara tulisan berhenti di 10. Seharusnya saya menulis postingan kali ini dengan judul Balada Mahasiswa atau biasa disingkat dengan BM dengan seri [11 dari 31] sampai selesai [31 dari 31] kan ya?

Hmm oke.. biarkan saya menjelaskan hal yang sangat krusial tentang event J50K yang tidak --ah, sebut saja tidak berpartisipasi sepenuhnya, dan saya sebut dengan ERATA (mungkin lebih baik begitu).

Alasan saya mengikuti event Januari50K (J50K) ini adalah karena saya ingin lebih rajin lagi menulis fiksi (terutama novel); menemani disaat saya menggarap skripsi; menyembuhkan diri dari kejenuhan.

Setidaknya itulah tiga alasan utama saya ikut J50K. Tapi lambat laun menjadi tidak rajin manakala saya harus mengerjakan yang lebih prioritas yaitu skripsi, dan menjadi bukan teman manakala teman ini terlalu "santai" bagi saya sehingga saya lupa daratan (melupakan hal utama dan pertama: skripsi), serta menjadi tidak menyembuhkan manakala saya tidak bisa bebas berkhayal menuangkan segala kata-kata sehingga saya jauh tenggelam bersama diksi yang utuh (sungguh, rasanya tidak bebas ketika kalian punya kewajiban dan tanggung jawab yang belum terselesaikan).

Meski cerita Balada Mahasiswa ini tidak selesai tepat waktu, saya tidak menyesali, toh saya bisa melanjutkannya kapan-kapan disaat saya tidak lagi sibuk mengurusi hal pertama dan utama ini.

Terimakasih untuk para pembaca yang menantikan tulisan absurd dan tolol saya tentang Balada Mahasiswa tiap harinya (yah mungkin selalu ditunggu tiap hari tapi gak update tiap hari yah? :D so sorry..~~)

Teruntuk para admin Kampung Fiksi yang akan mengecek blog peserta J50K, saya ucapkan terimakasih juga saya bisa jatuh dan terjerembap dengan sendirinya di grup fb bernama Januari50K :)) akhirnya saya menemukan formula dan pola bagaimana menulis fiksi (novel) yang baik dan benar itu. Dan saya merasa terberkati!! :D

Jika ditanya apa cerita ini akan saya lanjutkan? jawabannya adalah ya! :-) tapi jangan ditunggu tiap hari, ntar kecele lho! =))

 

yours sincerely,

Riefka.

Oops2

BM: Boker Siaga #1 [10 dari 31]

     "Payah ni anak. Kupingnya ditindih setan berapa biji sih?" Wa berdecak kesal setelah ia menelepon kedua kalinya selepas sholat subuh di masjid.
     "Sepuluh menit lagi deh coba telfon." timpal Momo yang baru bangun, lantas bergegas menuju kamar mandi, berwudhu.
     Kini giliran Aji yang menelepon, ia mendekatkan hapenya ke kuping kirinya.
     Sudah tersambung.
     Empat detik. Enam detik. Empat belas detik.
     "Iye, Ji. Gue bangun!"
    

Read the rest of this post »

BM: Telat Kuliah [9 dari 31]

Doom.. da da di da di.. Doom da da di da di..
Everybody's gonna love today,
Gonna love today, gonna love today.
Everybody's gonna love today, gonna love today.
Anyway you want to, anyway you've got to,
Love love me, love love me, love love.

     Suara musik Mika yang menghentak di awal lagu mampu mengembalikan seperempat kesadaran Chacha. Tangannya mencari-cari henpon di bawah bantal, selalu meleset dari sumber suara.
I've been crying for so long,
     "Yaa..?" Chacha menjawab seadanya.

Read the rest of this post »

BM: Insomnia [8 dari 31]

Kita tahu Indonesia tidak berlaku Daylight Saving Time, kan? Kalau begitu, persepsi 1 hari = 24 jam terasa tepat. Setidaknya 6-7 jam digunakan untuk istirahat (baca: tidur). Dan untuk jam biologis yang ideal, sebaiknya jam 11 malam kita sudah terlelap. Jika tidak, maka organ jantung akan mengalami gangguan. Chacha tahu ini, karena ia mahasiswi kesehatan. Tapi entah mengapa matanya tidak bisa diajak kerjasama saat otak memerintahkan tidur.
Justru jam sebelas malam yang Chacha lakukan adalah menonton televisi, terlebih dengan pilihan channel macam AXN, FOX, Star World, dll program tivi sangat bagus-bagus. Jika ia bosan, justru menatap layar netbooknya dan berselancar ria di dunia maya. Entah menulis blog, mengunduh lagu, twitteran, facebookan, mengecek dan membalas email (bergantian mengecek ketiga emailnya), membaca portal berita, dll. Sangat random yang ia lakukan. Pindah dari situs ke situs lain, tak bosan-bosannya telunjuknya pantas pangus di mouse pad.
"Lu tidur jam berapa sih, Cha? Ane perhatiin jam 12 gitu kadang lu masih aktif aja ngoceh di twitter!" Momo iseng bertanya saat Chacha hendak mengambil sepeda –pulang ke kosannya.
"Kadang jam 1, kadang ya jam 3 baru tewas!"
"HAH!? Lu insomnia?" sergah Aji.
"Insomnia sih enggak, cuma udah hobi aja. Gimana yaa.. perasaan kalo tidur jam 10 atau jam 11 tuh ada yang kurang. Gue ngerasa kurang aja gitu satu hari ada 24 jam!"
"Hadeuh, dasar orang aneh!"
Chacha hanya tersenyum lebar lalu menjulurkan lidahnya, "Emang elu tidur jam berapa, Ji?"
"Ngga tentu, ngantuk ya tidur aja!"
"Elu, Mo?"
"Jam 12an gitu lah, jarang lebih dari itu."
"Kalo lu pasti abis ini tidur ya, Wa?"
Wa mengangguk.

Read the rest of this post »

BM: BoLang (Bocah Ilang) [7 dari 31]

Sudah dua tahun lamanya mereka hidup di perantauan, tepatnya di Jember. Dan tidak afdol rasanya jika belum berkunjung ke TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Puger. Butuh satu jam perjalanan menuju tempat tersebut, idealnya sih begitu apalagi jika melajukan motor dengan kecepatan mirip almarhum Moncelli. Tentu ceritanya akan lain (lebih dari satu jam) apabila pake acara nyasar segala dan mogok gara-gara busi motor kotor.
"Mampus!" motor bebek yang Aji dan Chacha naiki mati tiba-tiba. Bukan, bukan.. Bukan bebeknya yang mati, tapi salah satu komponen mesinnya bermasalah. Aji berdesis kesal. "Telfon Momo, Cha!"

Read the rest of this post »

BM: Bomber #1 [6 dari 31]

Setelah pulang latihan karate di hari Selasa, penunjuk waktu sudah berjumawa mengarahkan jarum kecilnya di angka 3 dan jarum panjang di angka 8. Di bulan Juli akhir biasanya Jember mulai dingin, dingin sedingin-dinginnya. Ketika pagi saja tak segan-segan asap tipis putih keluar dari hidung dan mulut. Jika keluar dari telinga mungkin kalian menderita train syndrome, segera periksalah ke dukun terdekat.

Tetapi saat malam, seperti yang Aji dan Chacha lakukan, mereka tidak melepaskan baju karatekanya justru melapisinya lagi dengan jaket bertudung. Mereka kini siap gowes-gowes sampai tempat tujuan.
“Sebelum gue lulus dari tempat ini pengen ngegraffiti deh, Ji.” Chacha membuka percakapan, menoleh ke arah kirinya, terus mengayuh sambil memasang status siaga.
“Boleh tuh,” Aji menoleh ke kanan, mengayuh, “Sekali-kali biar semesta tahu gitu bakat gambar gue.”

Read the rest of this post »

BM: SKS [5 dari 31]

Musim ujian telah tiba. Sebagaimana mahasiswa pada umumnya, porsi belajar mereka tentu pasti ditingkatkan. Bab per bab mereka pelajari, selama musim ujian tak ada acara main atau kunjung berkunjung ke kosan teman.
Kecuali ada mata kuliah yang mereka kurang pahami dan ada peluang saat ujian mata kuliah tersebut semua soalnya membuat otak seperti terkontaminasi dengan uap benzen, mereka akan janjian untuk belajar bersama. Saling berdiskusi ringan.
Tak lupa juga saling melengkapi catatan. Pinjam sana pinjam sini. Fotokopi ini fotokopi itu. Alhasil bahan ujian yang mereka pegang dan pelajari penuh dengan lembar fotokopian. Entah itu berupa handout atau catatan dari penjelasan dari dosen sekalipun. Saat belajar, menganut sistem kebut semalam (SKS). Meskipun ujian itu bernama UAS dan ada masa tenang, entah kenapa lebih tertantang menerapkan sks.

Read the rest of this post »

BM: Ngerjain Tugas Bareng [4 dari 31]

Malam itu Chacha mengayuh sepedanya dengan suka cita. Baginya sekarang mendapat teman belajar yang sekaligus teman akrab adalah perbuatan yang menyenangkan. Apalagi masih semester 1, masih sehangat kue muffin yang keluar dari micromave. Tepatnya selepas maghrib Chacha ke kosan Aji.
Chacha sudah berada di depan gerbang kosan, membuka tanpa ada rasa sungkan sedikitpun atau risih karena itu kosan lelaki. Ternyata Aji dan Wa ada di depan kamarnya, Aji sedang membuka kunci kamar.
Wa menoleh, "Hei, Cha."
Chacha hanya mengangkat dagu sambil melambaikan tangan kirinya. Sepeda yang dituntunnya kini sudah terparkir melintang di tempat parkir motor. Bukan garasi. Hanya ruang terbuka diantara kamar-kamar.

Read the rest of this post »

BM: Nongkrong Bareng [3 dari 31]

Senja kian memucat dan petang segera hadir. Sesuai dengan kebiasaan Aji dan Wa, maka selepas isya` lah merupakan waktu yang tepat untuk keluar dari peradaban. Sebelum ini adalah urusan mereka dengan Tuhan.
Karena sama-sama menyandang status baru sebagai mahasiswa baru di kota perantauan, mereka mencoba menjelajahi kota di malam hari dengan sepeda masing-masing. Sengaja memelankan kayuhan sepeda, mereka menjelajahi mulai dari lingkungan kampus yang tiap sudutnya punya banyak taman dan tempat tongkrongan anak muda club motor atau sekedar nongkrong dengan teman-teman seangkatan. Hingga akhirnya mereka mengayuh ke alun-alun kota.
Sebelum pergi ke alun-alun,

Read the rest of this post »

BM: Sumpah Persahabatan Kita [2 dari 31]

Setelah kuliah berakhir siang itu, Aji berniat hendak ke kosan Chacha. Tapi Chacha bilang: “Ngga seru! Nggak ada apa-apanya. Mending ngga usah, beneran deh! Setelah kuliah ini lu mau ke mana?”

Ngga ke mana-mana. Eh enggak apa-apa kali, Cha, niat gua baik loh ini..”

“Masalahnya ngga ada ruang tamu! Di teras aja tuh ya tempat duduknya seadanya doang, lu bakal duduk di bekas pot, apalagi siang. Beuh... panas, mending malem deh.” Aji menelan ludah. What Tje Fuk, rumah ngga ada tempat duduk gitu kumaha? “Bu kos lu pelit ya?”

Read the rest of this post »